Ulama' Pilar Pencegah Degradasi Umat

Umat Islam sebagai suatu komunitas religius memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kemuliaan akhlak, kekuatan iman, dan kemurnian syariat. Namun, sepanjang sejarah, umat Islam tidak pernah luput dari berbagai bentuk krisis, baik yang bersifat internal seperti perpecahan, kemerosotan moral, hingga kebodohan, maupun krisis eksternal seperti penjajahan, Islamofobia, dan dekadensi budaya.

Dalam konteks inilah, kehadiran ulama’ menjadi sangat sentral. Ulama’ bukan hanya tokoh agama, melainkan pilar utama dalam menjaga stabilitas umat, mencegah degradasi spiritual dan moral, serta menjadi penerang dalam kegelapan zaman. Ulama’ merupakan penjaga warisan kenabian yang menghubungkan umat dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, eksistensi dan peran ulama’ sangat menentukan arah dan kualitas kehidupan umat Islam.

Ulama’ Sebagai Pewaris Nabi

Rasulullah  telah menegaskan kedudukan mulia para ulama’ dalam sabdanya: "Sesungguhnya para ulama’ adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad). 

Hadits ini mengandung makna mendalam: ulama’ adalah penerus estafet perjuangan para nabi dalam menyampaikan risalah, menegakkan nilai-nilai kebenaran, dan menjaga umat dari penyimpangan. Jika nabi adalah pembawa wahyu, maka ulama’ adalah penjaga dan penyampai warisan wahyu tersebut setelah kenabian berakhir.

Peran Strategis Ulama’ dalam Menjaga Umat:

  1. Penjaga Aqidah dan Syariat

Ulama’ berperan sebagai benteng pertama dalam menjaga kemurnian aqidah umat Islam dari berbagai bentuk kesyirikan, bid’ah, dan penyimpangan pemikiran. Dalam Al-Qur’an, Allah  memerintahkan: "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43). Ayat ini menegaskan bahwa ulama’ adalah rujukan utama dalam memahami ajaran Islam dengan benar. Tanpa bimbingan mereka, umat rentan disesatkan oleh pemahaman yang keliru atau ekstrem.

  1. Pengawal Moral dan Akhlak Masyarakat

Salah satu penyebab utama degradasi umat adalah kerusakan akhlak. Ketika nilai-nilai kejujuran, amanah, kasih sayang, dan keadilan mulai luntur, ulama’ hadir sebagai pengingat sekaligus teladan. Keteladanan akhlak para ulama’ bukan hanya didasarkan pada retorika, tetapi pada pengamalan nyata yang mampu menginspirasi umat untuk memperbaiki diri.

  1. Pelurus Penyimpangan Sosial dan Budaya

 Ulama’ juga memiliki tugas besar dalam meluruskan praktik-praktik sosial yang menyimpang dari ajaran Islam. Dalam masyarakat modern yang diwarnai oleh budaya konsumtif, liberalisme, dan hedonisme, ulama’ dituntut untuk menyuarakan kebenaran dan mengarahkan umat kepada kehidupan yang selaras dengan prinsip-prinsip Islam. Sebagaimana firman Allah: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran: 104). Ulama’ termasuk golongan yang menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar ini secara sistematis dan konsisten.

  1. Penjaga Identitas Peradaban Islam

Ulama’ juga berperan sebagai penjaga warisan peradaban Islam. Mereka merekam, mengkaji, dan menyampaikan ilmu-ilmu keislaman melalui pengajaran, karya tulis, dan institusi pendidikan. Berbagai pondok pesantren yang tersebar di seluruh Nusantara, Universitas Islam yang ada di Indonesia, serta Universitas Islam klasik seperti Al Azhar di Mesir, Zaitunah di Tunisia, dan Nizamiyah di Baghdad merupakan bukti nyata bagaimana ulama berperan dalam membangun fondasi intelektual dan spiritual umat.

Konsekuensi Hilangnya Peran Ulama’

 Ketika keberadaan ulama diabaikan atau suara mereka dipinggirkan, maka umat akan kehilangan arah. Rasulullah  telah memberi peringatan tegas: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari hamba-hamba-Nya. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama’. Sehingga apabila tidak tersisa seorang 'alim pun, manusia mengangkat pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menjadi peringatan bahwa salah satu sebab utama kehancuran umat adalah hilangnya figur ulama’ yang lurus dan berilmu. Ketika orang-orang awam dijadikan rujukan, maka fatwa-fatwa sesat akan bermunculan, dan umat pun akan terjerumus dalam kesesatan yang lebih jauh.

 Ulama’ adalah pilar yang menyangga eksistensi umat. Mereka adalah penerang dalam kegelapan, pengawal dalam kekacauan, dan penjaga dalam masa krisis. Dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, peran ulama’ semakin dibutuhkan. Tanpa ulama’, umat akan kehilangan arah, dan degradasi spiritual, moral, serta sosial akan menjadi keniscayaan.

Oleh karena itu, sudah seharusnya umat Islam kembali menempatkan ulama’ pada posisi yang mulia dan strategis. Menghormati, mendengarkan, dan mengikuti bimbingan mereka bukanlah bentuk pengkultusan, melainkan langkah bijak untuk menjaga kemuliaan dan kelangsungan umat Islam itu sendiri.[]

Oleh : Muhammad Imam Baihaqi S.Pd.I

Komentar

[ Kembali ]

`