
Muara Rindu Yang Tak Terbendung
Pada permulaan sajak, Imam al-Bushiri melukiskan syi'irnya melalui potongan pertanyaan yang begitu tajam, melaksanakan peluru yang keluar dari laras senapan penembak jitu, menembus logika sekaligus menggugah jiwa. Maka, pada umpan yang kini kita kaji, Imam al-Bushiri menghadirkan jawaban yang lahir perlahan dari “hunusan tanya” di awal karyanya itu
Kali ini, Imam al-Bushiri menjawab pertanyaannya dengan gaya yang tampak sederhana namun penuh nalar. Meski begitu, di balik kesederhanaan itu tersimpan samudra makna yang mengalir deras, membakar cinta dan kerinduan kepada Sang Kekasih Agung Baginda Nabi Muhammad ﷺ .
Dalam penjelasannya, Syekh Imam al-Būṣīrī menguraikan sebab-sebab dari jawaban tersebut. Terselip di dalamnya rasa cinta yang menyala-nyala, yang oleh beliau tertanam hingga sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata lahiriah. Penjelasannya sangat luas dan mendalam, bahkan meniadakan kata “karena” sebagai bentuk penafian terhadap sebab-sebab biasa. Air mata yang bercampur darah bukanlah hal yang lumrah, melainkan buah dari cinta dan kerinduan yang mendalam kepada Baginda Nabi ﷺ yang senantiasa berbisik dalam hati dan pikiran.
Meskipun perjumpaan itu hanya sekilas dalam dunia mimpi, namun seluruh hal; tempat, waktu, sabda, dan sentuhan kasih Baginda ﷺ melekat kuat dalam raga dan jiwa Imam al-Būṣīrī. Seandainya tak ada cinta dan kerinduan yang membara, niscaya air mata takkan pernah menetes.
لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تَرِقْ دَمْعًا عَلَى طَلَلٍ
“Andaikan tak ada cinta yang menggores kalbu, tak mungkin kamu mencucurkan air matamu”
Saudara, perlu diketahui bahwa lafadz “ الهوى ” (al-hawā) merupakan masdar dari kata هوى , dengan harakat kasrah pada huruf wāw, yang berarti cinta . Lafaz “ الهوى ” berkedudukan sebagai mubtada' , sedangkan khabarnya dihapus (taqdīr-nya: موجود ) sebagai jawaban dari huruf syarat sekaligus sebagai isim dari لا النافية للجنس yang berfungsi meniadakan sesuatu, yakni sebab. Dengan demikian, susunan lafadz yang dipilih Imam al-Būṣīrī amat indah dan penuh kedalaman. Beliau menafikan sebab-sebab lahiriah: air matanya tidak mengalir karena sebab biasa.
Kata “ الهوى ” di sini merujuk pada cinta spiritual yang mengakar kepada Allah ﷻ dan kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ cinta yang membangkitkan dan mengobarkan kerinduan tanpa batas. Kemudian imam al-Būṣīrī melanjutkan umpan setengahnya dengan lafadz
وَلَا أَرِقْتَ لِذِكْرِ
الْبَانِ وَالْعَلَمِ “Meratapi puing-puing kenangan masa lalu memperingati pohon al-Ban dan gunung yang kau rindukan”
Umpan ini memancarkan keindahan bahasa sekaligus makna tersirat yang mendalam.
- Makna Lafaz “ الأرق ” ( al-arq )
Menurut penjelasan Imam al-Bājūrī dalam Syarḥ al-Burdah , lafaz “ الأرق ” menjanjikan seseorang untuk tidur karena beratnya kerinduan yang berdenyut lebih kencang daripada detak jantung. Kerinduan yang begitu dalam, mungkin lebih luas dari samudra. Maka, makna “ ولا أَرِقْتَ ” adalah “Dan engkau takkan berjaga.” Bukan karena kehilangan rasa, melainkan karena cintanya telah bertransformasi dari cinta duniawi menuju cinta spiritual.
- Makna Lafaz “ البان ” ( al-Bān ) dan “ العلم ” ( 'alam )
Secara bahasa, al-Bān berarti sejenis pohon harum nan indah daunnya, sering tumbuh di padang pasir. Dalam tradisi kesastraan Arab, al-Bān sering dijadikan simbol kerinduan, tempat yang menjadi saksi bisu cinta lama terhadap sang kekasih. Kalau 'alam berarti bukit kecil atau tanda di kejauhan. Dalam konteks syair, 'alam melambangkan tempat pertemuan dengan kekasih.
Beberapa ulama sufi menafsirkan bait ini secara ruhaniyah: “Pohon al-bān ” dan “bukit 'alam ” merupakan isyarat terhadap keindahan dunia dan kedudukan duniawi. Ketika hati telah diterangi oleh cahaya cinta Nabi ﷺ , segala kenangan duniawi tidak lagi menimbulkan kegelisahan. Maka, lafadz ذِكر البان والعلم berarti “mengingat tempat yang dahulu menjadi saksi kasih”, bukan untuk meratapinya, melainkan sebagai penegasan bahwa cinta sejati kini beralih kepada Sang Nabi ﷺ .
`Jika disarikan secara spiritual, bait Imam al-Būṣīrī ini menggambarkan Tahapan Tobat Hati , peralihan dari cinta duniawi menuju cinta ilahiah, dari kegelisahan jiwa menuju ketenangan dalam kerinduan kepada Baginda Nabi ﷺ .[]
Moch. Lutfi Fadlillah
