Paham Puralisme Yang Bikin Miris

Kita sering mendengar slogan “semua agama itu benar”. Slogan ini sering kali diutarakan oleh kelompok liberalis dan pluralis. Meskipun rapuh secara argumentasi, di kampus-kampus pendidikan, bahkan sekelas kampus berbasis Islam, pemahaman ini sangat laris-manis. Bagaimana bisa menjadi sangat laris-manis dan dianut oleh banyak kalangan? Mungkin jawaban yang paling pas adalah karena paham liberalis dan pluralis ini oleh mereka dibungkus dengan bahasa kontemporer disertai dengan ajakan toleransi antar umat beragama sehingga membuat wah  para aundiens yang mendengarnya. Dan ditambah lagi oleh faktor ketidakpastian dan keminiman pemahaman serta pemantapan akidah orang-orang awam, baik di perkuliahan maupun masyarakat secara umum. Inilah yang disebut dengan liberalisasi akidah Islam.

Liberalisasi akidah Islam dilakukan dengan penyebaran paham pluralisme agama. Paham ini pada dasarnya menyatakan bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau mereka menyatakan bahwa agama adalah persepsi relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga –karena kerelatifannya– setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau percaya, bahwa agamanya sendiri yang lebih baik dari agama lain, atau mengklaim agamanya sendiri yang benar, sedangkan agama lain salah.   

Pemahaman bahwa agama Islam adalah agama yang relatif benar dan salah  tentu semuanya bertentangan dengan ajaran pokok Islam. Sebab, dalam pandangan Islam, paham pluralisme agama ini jelas merupakan paham syirik modern, karena menganggap semua agama adalah benar. Keyakinan akan kebenaran agama Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan diridhoi Allah adalah konsep yang sangat mendasar dalam Islam. Allah  menegaskan dalam Al-Qur`an:

إنّ الدّين عند الله الإسلام

Artinya:  “Sesungguhnya agama yang benar (yang diterima) di sisi Allah adalah agama Islam.” (Ali Imron: 19)

Para ulama` tafsir sepakat bahwa agama yang diridhoi dan diterima di sisi Allah adalah agama Islam. Di antaranya Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya ( Tafsiru Al-Qur`ani Al-`Adhimi  Juz 1 halaman 321) menjelaskan bahwa pada ayat di atas, Allah  memberi kabar bahawa tiada agama yang diterima di sisi-Nya kecuali agama Islam. Yakni, mengikuti para Rasul yang diutus oleh Allah  di setiap zaman hingga dipungkasi dengan diutusnya Nabi Muhammad , yang mana Allah  menutup segala jalan menuju-Nya kecuali dari jalan dan syari`at Baginda Nabi Muhammad . Maka barang siapa yang menghadap Allah  setelah terutusnya Nabi Muhammad  dengan beragama selain syari`at dan ajaran Rasulullah Muhammad , maka ia tidak diterima di sisi Allah .

Penjelasan Imam Ibnu Katsir di atas bukanlah pendapat yang serampangan sebagaimana kicauan-kicauan orang-orang liberalis-pluralis yang abal-abal tidak memiliki dasar. Pendapat Imam Ibnu Katsir ini sejalan dengan firman Allah:

Bagaimana cara menangani masalah ini dengan benar atau salah?

Artinya: “Barang siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka dia tidak diterima. Kelak di akhirat dia tergolong orang-orang yang rugi.” (Ali Imron : 85)

Jadi jelas, anggapan bahwa agama Islam adalah agama yang relatif benar dan salah atau anggapan bahwa semua agama adalah sama-sama benar itu merupakan keyakinan yang bathil dan tidak memiliki dasar dalam Islam. Mungkin saja, kelompok liberalis-pluralis itu dicuci otaknya oleh doktrinnya orang-orang barat yang ingin merusak akidah umat Islam secara umum, namun mereka (liberalis-pluralis) tidak sadar. Wal`iyadzu billah.

Lalu, salahkah jika seorang muslin meyakini bahwa agama Islamlah yang benar dan agama yang lain adalah agama salah? Tentu boleh, bahkan wajib bagi setiap muslim berkeyakinan demikian. Sebab, seorang muslim yang mukmin wajib meyakini bahwa syari`at dan ajaran yang dibawa Rasulullah  adalah ajaran yang benar. Allah  menegaskan dalam Al-Qur`an:

Apa yang Harus Dilakukan Saat Ini?

Artinya: “Jalanku inilah (Islam) adalah jalan yang lurus, maka ikutlah dan janganlah kalian mengikuti agama-agama lain hingga menyebabkan kalian berpisah dari jalan Allah yang lurus. (Al-An`am: 153)

Jika seorang muslim tidak boleh percaya bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan agama lain salah, atau jika seseorang tidak yakin dengan kebenaran yang ia anut –karena semua kebenaran dianggapnya relatif–  maka kita bertanya-tanya, untuk apa seorang da`i berdakwah mengajak orang lain untuk mengikuti kepercayaannya? Untuk apa ia menyeru orang lain untuk mengikuti kebenaran dan menghindari kemungkaran, sedangkan ia sendiri tidak mempercayai apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah.

Kesimpulannya bahwa pluralisme agama ini adalah perkara yang utopis, mustahil terjadi. Karena, fitrah manusia akan mengatakan bahwa apa yang mereka katakan adalah kebenaran. Setoleran-toleransi penganut aliran tertentu, pasti mereka akan meyakini apa yang mereka anggap itu benar. Dan paham ini tidak memiliki dasar yang kuat –yang bisa membenarkannya–  sehingga membuat paham ini menjadi keyakinan yang batil. Wallahu a`lam. []

 

Komentar

ahmad : Gimana Sih pemahaman puralisme???

[ Kembali ]

`